Oleh Bosman Batubara *
Bulan-bulan ke depan di Yogyakarta akan dengan mudah kita temukan wajah-wajah segar, dengan bahasa Indonesia yang jauh dari sentuhan emosi lidah Jawa, apalagi mengharapkannya berbahasa Jawa. Yogyakarta menjadi tempat berkumpulnya generasi muda dari seluruh penjuru Nusantara. Mulai dari provinsi paling utara, Nanggro Aceh Darussalam, sampai provinsi Papua di sebelah timur. Semua mengrimkan delegasinya. Bagi mahasiswa yang datang dari bagian barat negara ini, menyaksikan apalagi merasakan berbaur dengan kawan-kawan dari daerah timur yang memiliki perbedaan warna kulit, mungkin sesuatu hal yang masih jarang, tetapi di Yogyakarta semua akan lebur dalam satu wadah kepentingan, menuntut ilmu pengetahuan.
Kisaran Juni sampai Agustus, biasanya ribuan calon mahasiswa baru datang memasuki kota Yogyakarta disamping dengan tujuan menuntut ilmu pengetahuan tadi, sekaligus menggantang asa untuk suatu masa depan yang lebih cerah. Banyak harapan dan cita-cita yang inklud dengan kedatangan para calon mahasiswa ini, mimpi tentang perguruan tinggi yang pasti akan berbeda jauh dengan masa-masa di sekolah lanjutan. Lebih jauh lagi, mimpi tentang masa depan, yang semuanya akan dimulai di Yogyakarta.
Kota Yogyakarta secara kultural berdiri pada tahun 1755, pilihan tahun 1755 merupakan tahun deklarasi perjanjian Giyanti yang disponsori oleh kolonial Belanda. Dalam perjanjian Giyanti tersebut, maka diputuskan Kerajaan Mataram Baru dibagi menjadi Surakarta dan Yogyakarta. Jadi kalau pangkal perhitungan adalah perjanjian Giyanti, maka sampai sekarang berarti Yogyakarta telah memiliki umur 249 tahun. Tetapi, sampai sekarang, yang sering diperingati sebagai hari jadi Kota Yogyakarta adalah 7 Juni 1947 yang merupakan momen administrasi dan birokrasi pemerintahan, yaitu ketika Gubernur Provinsi DIY dan Walikota Yogyakarta secara resmi menempati gedung yang lebih bebas dari konsepsi tradisional Keraton Yogyakarta. Tafsir 1947 adalah tafsir administratif, yang selalu diperingati secara resmi setiap tahunnya. Kalau mengikuti tafsir ini berarti sebentar lagi Yogyakarta akan merayakan ulang tahunnya yang ke-57. Tetapi kebanyakan masyarakat umum Yogyakarta lebih menyukai hari jadi kotanya dengan tafsir yang pertama, meskipun memang memiliki kelemahan, tak tercatatnya secara resmi hari jadi kota Gudeg ini. Para penjual batik di Pasar Beringharjo, penjual ikan di pasar Ngasem, para pedagang angkringan dan kelompok-kelompok masyarakat lainnya lebih dapat menerima bahwa kotanya sudah berumur tua.
Apa kiranya yang menjadi magnet kota Yogyakarta sehingga menyedot sedemikian banyak peminat untuk menamam “investasi” masa depan di kota itu? Banyak jawaban yang bisa dijadikan sebagai rasionalisasi. Beberapa diantaranya. Universitas Gadjah Mada barangkali sampai saat ini masiah tetap menjadi icon tersendiri bagi Yogyakarta. Universitas yang didirikan pada tanggal 19 Desember 1949 ini pada awalnya cuma memilki dua fakultit, dan sampai sekarang sudah memiliki 18 fakultas. Salah satu universitas tertua di Indonesia ini terkenal sebagai “kampus kerakyatan” meskipun belakangan ini digugat kembali oleh banyak kalangan—terutama oleh mahasiswanya sendiri—karena semakin tahun, biaya pendidikan di UGM yang semakin tinggi. Pesona UGM, diakui atau tidak, sampai sekarang masih tetap memiliki daya pikat tersendiri.
Daya penarik lain bisa jadi adalah, simbol kota Yogyakarta, yaitu Jalan Malioboro yang sudah terkenal sampai nun jauh ke berbagai penjuru dunia. Di Malioboro akan dengan mudah kita jumpai pedagang-pedagang kaki-lima dari berbagai penjuru daerah di Nusantara. Ada pedagang dari Minagkabau, pedagang dari Mandailing, pedagang dari Flores, Pedagang dari Kalimantan dll. Macam-macam ragam barang yang diperdagangkan di Jalan Malioboro, mulai dari kaos-kaos oblong, cindera mata khas Yogyakarta, sampai batik-batik yang berasal dari Pekalongan dan Solo, semua tumpah-ruah di Jalan Malioboro. Manakala sang surya tenggelam, maka di sepanjang jalan Malioboro, akan segera terbentang tenda-tenda pedagang lesehan yang menjual aneka jenis makanan. Mulai dari pecal lele sampai gulai bebek, ada di lesehan Malioboro. Suatu kenikmatan tersendiri bagi para muda-mudi yang sedang memadu kasih, menikmatai hidangan khas ala lesehan Malioboro sambil diringi oleh alunan musik yang dibawakan pengamen jalanan. Barangkali suasana seperti ini yang menjadi inspirator bagi Katon Bagaskara dan Group musik KLa Project sehingga mereka menggubah lagu Yogyakarta.
Pada bagian ujung jalan Malioboro, maka terbentang perempatan kantor Pos Besar yang sudah menjadi saksi sejarah ribuan kali aksi mahasiswa yang turun ke jalan. Di sekitar kawasan perempatan itu juga terdapat benteng Venderburg yang menjadi simbol budaya kota Yogyakarta, karena sering dipakai sebagai tempat pameran-pameran kebudayaan dan pementasan seni tari dan seni teater. Persis di sebelah selatan benteng maka berdiri dengan anggun museum 1 Maret yang menjadi simbol untuk memperingati serangan umum 1 Maret oleh para Gerilyawan di zaman perang kemerdekaan. Pada malam hari bangku-bangku di trotoar depan benteng dan museum ini juga menjadi tempat yang strategis bagi pasangan muda-mudi.
Sedikit ke arah timur maka kita akan menjumpai salah satu pusat toko buku murah di Indonesia yaitu pusat toko buku shooping. Bagi mahasiswa keberadaan shooping sangatlah membantu, karena dengan harga yang miring, maka kita bisa mendapatkan buku-buku yang di toko-toko dijual dengan harga yang lebih mahal. Shooping juga menjadi surga bagi para pemburu buku-buku lampau, karena koleksi buku-buku kunonya yang melimpah ruah. Tinggal sedikit ngotot-ngototan tawar-menawar, maka para pengunjung akan memperoleh buku-buku yang didambanya. Bagi para “kutu buku” mengunjungi Yogyakarta tanpa singgah di shooping ibarat “sayur tanpa garam”.
Pesona intelektual lain kota Yogyakarta adalah perpustakaan. Banyak perpustakaan dengan koleksi buku yang lumayan lengkap dapat kita temukan di Yogyakata. Sebut saja perpustakaan UPT II UGM, Perpustakaan UNY, perpustakaan Sanatha Darma, Perpustakaan IAIN Sunan Kalijaga, Perpustakaan Hatta Di Jalan Solo, yang menyimpan buku-buku koleksi salah satau proklamator kita, Bung Hatta. Kemudian perpustakaan daerah, dan deretan perpustakaan-perpustakaan lain yang dijumpai hampir di tiap universitas di Yogyakarta. Dan yang tidak boleh luput adalah taman-taman bacaan yang menyewakan novel-novel terjemahan dan komik-komik, yang dengan gampang ditemukan di sentra-sentra kawasan pemondokan mahasiswa. Maka bukan suatu hal yang mengherankan jikalau komunitas-komunitas pembaca buku tumbuh subur “bak jamur di musim penghujan”. Pemandangan sore menyajikan mahasiswa yang berkumpul-kumpul membentuk lingkaran sambil berdiskusi di atas rumput hijau, sampai saat ini masih sering kita jumpai, terutama di kampus besar seperti UGM.
Soalan yang biasanya selalu menghantui mahasiswa baru yang datang dari luar daerah—terutam dari luar jawa—adalah permasalahan makanan. Dapat kita bayangkan, seseorang yang berasal dari Sumatera Barat, yang sejak lahir sudah akrab dengan makanan yang serba pedas, tiba-tiba masuk ke Yogyakarta dengan cita-rasa makanan yang terkenal dengan rasa manisnya. Tetapi itu sebenarnya bukan permasalahan mendasar, karena di era yang semakin kosmopolitan seperti sekarang, maka warung-warung makan yang menjual makanan khas daerah tertentu dapat dengan mudah kita temukan di berbagai jalan di Kota Yogyakarta. Warung masakan Padang, merupakan salah satu warung makan favorit bagi mahasiswa yang berasal dari Sumatra, meski tentunya dengan konsekwensi harga makanan yang sedikit di atas rata-rata warung-warung lokal. Seputar fenomena makanan ini, ada satu ciri khas kota Yogyakarta, yang sepertinya tidak ditemukan di tempat lain di Nusantara: warung remang-remang angkringan! Di angkringan, yang biasanya ditemukan di perempatan-perempatan jalan, atau di gang-gang perumahan penduduk, para pengunjung bisa makan “nasi kucing”. Disebut nasi kucing, karena memang porsinya yang sedikit. Kalau disebandingkan, satu bungkus nasi kucing ini, kira-kira sama dengan banyaknya porsi sekali makan seekor kucing. Harga per bungkus nasi kucing ini biasanya 500 rupiah. Tetapi, karena jumlahnya yang sedikit, jarang sekali orang makan di angkringan dan cuma menghabiskan satu bungkus nasi kucing, barangkali bisa dua sampai tiga bungkus. Disamping harganya yang murah, sebenarnya daya tarik lain dari warung remang-remang angkringan ini adalah tradisi ngobrolnya. Di angkringan biasanya para mahasiswa makan malam, dan ngobrol kesana-kemari. Beragam tema tertumpahkan disana. Mulai dari tema politik nasional kontemporer, obrolan tentang perkuliahan, obrolan tentang olahraga, tentang ilmu pengetahuan dan macam-macam. Salah dua warung angkringan yang lumayan terkenal adalah angkringan Tugu, di dekat Stasiun Kereta Api Tugu, yang sering dipakai oleh para aktivis mahasiswa dan penggiat sosial lainnya sebagai tempat diskusi informal, dan angkringan jalan Gejayan, yang biasanya menjadi tempat makan para “pasangan manyar” yang sedang terganja oleh badai asmara.
Tradisi aktivisme mahasiwa yang sudah panjang sampai sekarang juga masih meninggalkan akar-akarnya di Yogyakarta. Banyak varian organisasi mahasiswa yang eksis dan saling berkoeksistensi sampai sekarang. Organisasi berbasis ideologi dan politik yang ada di Indonesia, hampir semuanya memiliki Cabang di Yogyakarta, sebut saja misalnya PMII, HMI, KAMMI, GMNI, LMND, GMKI, PMKRI, dan lain-lain. Semuanya ada di Yogyakarta. Para mahasiswa baru tinggal memilih organisasi yang disenanginya. Untuk mahsiswa yang senang dengan kegiatan-kegiatan Jurnalistik dapat bergabung di LPM-LPM yang hampir ada disetiap komunitas mahasiswa, sebut saja misalnya, BALAIRUNG (yang merupakan Lembaga Pers Mahasiswa UGM) atau jurnal Mahasiswa TRADEM (Transformasi Demokratik, yang merupakan terbitan berkala organisasi ekstra kampus). Bagi mahasiswa yang senang berkumpul-kumpul dengan mahasiswa lain dari daerahnya, maka banyak juga ditemukan organisasi-orgnaisasi mahasiswa kedaerahan. Untuk mahasiswa yang berasal dari Sumatra Utara, bisa disebut beberapa diantaranya seperti IMMAMY, IMA-TAPSEL, IKMALAI dan lain-lain. Bagi mahasiswa yang senang dengan kegiatan ke-pencintaalaman, bisa bergabung di mapala-mapala yang ada di jurusan, fakultas atau universitas masing-masing. Dan kesemuaannya itu merupakan wadah untuk mengembangkan dan menampung kreativitas mahasiswa. Bagi yang senang dengan kegiatan musik, tinggal mencari partner yang sehati, bentuk group band, dan mengikuti festival-festival band yang hampir tiap minggu ada di berbagai kampus di Yogyakarta, kalau memang punya bakat, ulet disertai segudang keberuntungan, dijamin tidak akan lama maka akan sejajar dengan band-band top nasional yang berasal dari kota ini seperti Sheila On7, Jikustik, dan lain-lain.
Akan tetapi dibalik semua gemuruh positif kaum muda Yogyakarta yang multikultural ini, sebenarnya ada satu fenomena yang lumayan meresahkan, sehingga kadang membuat para orang tua untuk berpikir berkali-kali sebelum merestui si buah hati menuntut ilmu di Yogyakarta. Yaitu fenomena maraknya sex bebas (free sex) dan penyalahgunaan narkoba di kalangan mahasiswa. Salah satu penelitian yang beberapa waktu yang lalu membikin “gempar”,— terlepas dari kontroversi tentang metodologi yang digunakan—bahwa lebih dari 90% mahasiswi di Yogyakarta sudah kehilngan virginitasnya. Hal ini juga disertai kasus-kasus penyalahgunaan narkoba yang hampir tiap hari bisa kita baca di koran-koran terbitan lokal. Barangkali hal-hal tersebut memang sudah menjadi “sisi lain” dari kota yang selama ini masih setia menyandang emblem sebagai “kota pendidikan” ini. Karena memang, seperti layaknya sekeping uang logam, selalu memilki dua sisi yang berlainan. Meminjam ucapan seorang teman—dan tidak akan pernah penulis kembalikan—Yogyakarta menyediakan semuanya, mau jadi mahasiwa “baik-baik”, fasilitas sudah menunjang, mau jadi mahasiswa “tidak-baik-baik”, lingkungan juga tidak kurang menunjang, kembali berpulang kepada para muda, yang akan menjadi penggores sejarah bagi diri dan lingkungannya. Begitulah!***
* Penulis adalah alumnus SMU Negeri 1 Kotanopan, sekarang kuliah di Jurusan Teknik Geologi FT-UGM, semester akhir dan aktivis di PMII Cabang Sleman-Yogyakarta.