/*

alumnipersmaUGM


kami adalah komunitas alumni penggiat pers mahasiswa UGM yogyakarta. Mirror site ada di sini


Situs Baru www.b21.web.id
milis tercinta
bahan-bahan tentang pers
Majalah Balairung UGM
Bulaksumur Pos
persma ITB
persma Balance AA YKPN
PPMI Dewan Kota Bandung
Blog Hayamwuruk
PPMI(persma.org)
PPMI
Tulisan di endonesia.net
LPM UIN Jakarta
UGM
Isola Pos
LPM Ekspresi UNY
ITB yang merunduk
Kami terdiri atas: Mahkamah, Agrita, Clapeyron, Entropy, Balairung, Bulaksumur, Sintesa, Pijar, dan banyak lagi nama-nama itu...
   

<< November 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30




Click to join ngangkring
Pencet di sini untuk ndaftar milis ngangkring



If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Wednesday, May 16, 2007
Belanja Iklan di Koran Naik 21 Persen

Jakarta, Kompas - Belanja iklan di media massa pada kuartal I/2007 mencapai Rp 7 triliun, atau naik 19 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp 5,9 triliun. Dalam periode itu belanja iklan di koran tumbuh 21 persen menjadi Rp 2,1 triliun.

Demikian hasil survei PT AC Nielsen Indonesia yang memonitor belanja iklan di 19 stasiun televisi, 82 koran, dan 127 majalah serta tabloid.

"Belanja iklan di televisi pertumbuhannya hanya 19 persen, sedangkan untuk majalah dan tabloid 5 persen," kata Senior Manager Client Service PT AC Nielsen Indonesia Ika Jatmikasari, Selasa (15/5) di Jakarta.

Menurut Ika, tingginya pertumbuhan belanja iklan di koran disebabkan masih banyak pemasang iklan yang mempertimbangkan karakteristik penyampaian pesan koran yang lebih terdokumentasi. "Artinya, pembaca koran masih bisa melihat iklan yang dipasang setiap saat dibutuhkan. Beda dengan karakter penayangan televisi yang sepintas," tuturnya.

Meski demikian, penayangan iklan tetap didominasi televisi dengan porsi 68 persen. Koran sebesar 30 persen, tabloid dan majalah sebesar 4 persen.

Lima besar

Banyaknya penayangan iklan komersial dan layanan masyarakat di televisi, berdasarkan survei PT AC Nielsen, yang masuk dalam lima besar adalah RCTI dengan 77.796 tayangan, Trans TV 77.393 tayangan, SCTV 68.176 tayangan, Trans 7 66.888 tayangan, dan Indosiar 53.329 tayangan.

Untuk koran, yang masuk lima besar, yaitu Kompas 18.477 tayang, Manado Post 11.398 tayang, Tribun Jabar 10.508 tayang, Batam Pos 10.108 tayang, dan Analisa 10.045 tayang.

Executive Business Development PT AC Nielsen Indonesia Tri Susanti Simangunsong menambahkan, iklan di televisi lebih didominasi produk perawatan rambut, sementara iklan di koran lebih didominasi ritel modern, seperti hypermart, supermarket, minimarket, toserba, dan swalayan. Hypermart menjadi produk terbesar dengan belanja iklan lebih dari Rp 24 miliar.

Berdasarkan survei, majalah dan tabloid adalah tempat yang paling banyak dilirik oleh pemasang iklan produk telekomunikasi. (OTW)

Sumber: Kompas, 16 Mei 2007

Posted at 10:33 am by avicenia
Komentar-o!  

Wednesday, August 16, 2006
Media Jangan Terkooptasi

Pers Indonesia
Media Jangan Terkooptasi

Jakarta, Kompas - Dalam seminar bertajuk "Pandangan dan Harapan terhadap Peran Pers Dewasa Ini", mengemuka harapan agar media massa, baik cetak maupun penyiaran, tidak terkooptasi oleh arus politik dan ekonomi. Harapan itu menguat karena media massa memiliki peran penting dalam proses pencerdasan bangsa, membangun wawasan dan sikap kritis warga.

Ketua MPR Hidayat Nur Wahid mengemukakan, media massa harus mampu bersikap independen dan menempatkan diri sebagai alat kontrol yang obyektif bagi kinerja legislatif dan eksekutif. Secara khusus, Hidayat berharap sikap independen dan obyektif itu makin berkembang pada media massa di daerah. "Mengapa? Karena saat ini pusat korupsi beralih dari pusat ke daerah," tuturnya dalam seminar yang diselenggarakan oleh Dewan Pers itu, Selasa (15/8) di Jakarta.

Jika proses pencerahan oleh media massa di daerah dapat efektif dilakukan, langkah itu akan menjadi sarana positif bagi pelaksanaan kehidupan bernegara. "Apalagi pembaca sebagian besar ada di daerah. Namun, akan sangat berbahaya jika media di daerah terkooptasi oleh kepentingan politik dan ekonomi," katanya menambahkan.

Selain Hidayat, seminar itu dihadiri oleh pakar komunikasi Bachtiar Aly, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Syafii Ma’arif, Wakil Ketua Dewan Pers RH Siregar, serta Sekjen Depkominfo Aswin Sasongko yang hadir mewakili Menkominfo.

Pada satu sisi kebebasan pers saat ini mampu membuka banyak sekat-sekat dalam proses hidup berbangsa. Namun, diakui juga kebebasan itu dapat menjadi bumerang jika sikap, integritas, dan harga diri media tidak terjaga.

RH Siregar mengatakan, masyarakat mengeluhkan tidak adanya standar untuk menjadi wartawan. "Orang bisa tiba-tiba menjadi wartawan sehingga akhirnya muncul ungkapan wartawan bodrek, jurnalisme anarkis, jurnalisme preman, atau jurnalisme pelintir yang pada akhirnya justru mencederai kebebasan pers," kata Siregar. Pada sisi legal, kode etik jurnalistik perlu disempurnakan.

Di sisi lain, dalam proses peliputan, Hidayat mengeluhkan kekurangobyektifan wartawan dalam menulis berita.

Dalam kesempatan itu, Dewan Pers menyerahkan penghargaan kepada 10 surat kabar terbaik tahun 2005. Pemberian penghargaan didasarkan pada penelitian mereka yang dilakukan pada periode April hingga Mei 2005 lalu. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode analis isi, yaitu, antara lain, nilai informasi, akurasi, keutuhan berita, relevansi, netralitas, serta keberimbangan. Penelitian dilakukan terhadap 86 media massa. (jos)

Sumber: Kompas, 16 Agustus 2006

Posted at 03:13 pm by avicenia
Komentar-o!  

Previous Page Next Page